Ada upaya kelompok tertentu yang akan menghabisi Gus Dur dengan
cara menyewa 6 sniper. Pandangan Anda?
Itu kata siapa, bulsit itu, tidak mungkin ada gerakan
semacam itu. Bisa saja itu manuver politik Gus Dur sendiri untuk mengalihkan perhatian publik. Masak
sekarang negara ini mau dibikin kacau. Kita bersama-sama harus bahu-membahu untuk menyelesaikan semua
permasalahan yang dihadapi bangsa yang semakin rumit. Kok malah ada yang berpikir untuk dihabisi.
Berpikirlah yang rasional saja.
Kelompok ini katanya menyewa sniper dari eks tentara atau desertir?
Saya tegaskan bahwa dalam sejarah republik ini, baik pemerintahan Orde Lama maupun Orde Baru, gaya-
gaya semacam itu memang sengaja diciptakan. Ada politik untuk menutupi-nutupi kesalahan pribadi serta
kepentingan politik pemerintah. Caranya, dengan jalan menciptakan dan mengalihkan opini publik,
supaya publik diarahkan kepada hal-hal yang semu, tidak jelas. Gaya-gaya semacam ini, yang harus kita
tinggalkan.
Jadi, Gus Dur sendiri menciptakan?
Ya, ia dong.
Buktinya?
Begini, kasus Buloggate, Bruneigate, dan mungkin skandal lain yang belum terdeteksi, itu kasus-kasus
yang sangat parah. Termasuk kasus Texmaco, Gus Dur sangat diuntungkan.
Lho kok begitu?
Iya dong. Itu sangat parah. Dari rezim-rezim sebelumnya kalau dilihat dari selang waktu berkuasa,
masa baru tujuh bulan berjalan kok sudah parah kayak begitu, yang benar saja. Cara menyoroti masalah,
mereka lakukan dari luar negeri, itu kan gaya lama.
Jadi, isu 6 sniper mau menghabisi Gus Dur itu bulsit?
Ya. Itu tidak benar. Itu hanyalah intrik politik gaya Gus Dur untuk menghindar dari semua permasalahan
yang terjadi, yang semakin rumit, dan belum satu pun terselesaikan. Kita bisa lihat, Kongres Papua
itu didukung Gus Dur. Buktinya, ia menyumbang Rp 1 miliar. Hasilnya apa? Rakyat Papua tetap mau merdeka.
Artinya apa itu?
Ya, kelemahan Pemerintah Gus Dur.
Lantas yang benar bagaimana mengelola negara itu?
Stop kunjungan ke luar negeri. Toh tidak ada investor yang ingin melakukan investasi di Indonesia
kalau kodisinya tetap kacau seperti ini. Artinya kalau kita ngomong begini nanti dikira mau menjatuhkannya,
mau menggoyangnya, mau mendongkellah. Kita harus sadar bahwa sekarang ini kita harus menumbuhkan
tradisi oposisi yang fair dan elegan dalam pengembangan wacana demokratisasi yang sedang berlangsung.
Kita harus jaga itu.
Bicara sniper, indikasi menghabisi Gus Dur dengan gaya combat intelijen atau menyewa sniper kan bisa
saja?
Jelasnya begini. Zaman L.B. Moerdani dulu, ada yang disebut dengan istilah Petrus (Penembak Misterius).
Tetapi itu hanya diberlakukan pada kasus-kasus kriminal murni. Dan, itu diakui langsung oleh Moerdani.
Zaman sekarang sudah tidak ada, kalaupun ada ya tangkap saja. Kenapa harus bikin masyarakat resah di
tengah himpitan ekonomi yang tidak menetu.
Adakah indikasi ke sana?
Begini. Seperti kasus pengeboman Masjid Istiqlal, BCA, itu tidak jelas semuanya sampai sekarang.
Katanya, kelompok AMIN (Angkatan Mujahidin Islam Nusantara). Ya tangkap saja, kan beres. Masalah
pembacokan Pak Matori ternyata itu masalah keluarga, jadi tidak jelaslah.
Berarti intrik sniper itu sengaja dilontarkan menjelang Agustus?
Ya, kayaknya begitu. Karena ada kabar dan bukan rahasia umum bahwa Gus Dur akan diturunkan bulan
Agustus mendatang. Jadi kayak begitu.
abduh ripamule